Selasa, 30 Agustus 2016

Ketika Kyai Ahmad Dahlan Memukul Kentongan

SUATU siang Kyai Ahmad Dahlan memukul kentongan mengundang penduduk Kauman ke rumahnya. Penduduk Kauman berduyun-duyun ke rumahnya.


Setelah banyak orang berkumpul di rumahnya, KHA Dahlan pidato yang isinya menyatakan bahwa kas Muhammadiyah kosong. Sementara guru-guru Muhammadiyah belum digaji.

Muhammadiyah memerlukan uang kira-kira 500 gulden untuk menggaji guru, karyawan dan membiayai sekolah Muhammadiyah.

Karena itu Kyai Ahmad Dahlan menyatakan melelang seluruh barang-barang yang ada di rumahnya. Pakaian, almari, meja kursi, tempat-tempat tidur, jam dinding, jam berdiri, lampu-lampu dan lain-lain.

Ringkasnya Kyai Ahmad Dahlan melelang semua barang-barang miliknya itu dan uang hasil lelang itu seluruhnya akan dipakai untuk membiayai sekolah Muhammadiyah, khususnya untuk menggaji guru dan karyawan.

Para penduduk Kauman itu terbengong-bengong setelah mendengar penjelasan Kyai Ahmad Dahlan. Murid-murid Kyai Ahmad Dahlan yang ikut pada pengajian Thaharatul Qulub sama terharu melihat semangat pengorbanan Kyai Ahmad Dahlan, dan mereka saling berpandangan satu sama lain, berbisik-bisik satu sama lain.

Singkat cerita, penduduk Kauman itu khususnya para juragan yang menjadi anggota kelompok pengajian Tharatul Qulub itu, kemudian berebut membeli barang-barang Kyai Ahmad Dahlan.

Ada yang membeli jasnya, ada yang membeli sarungnya, ada yang membeli jamnya, almari, meja kursi dsb.

Dalam waktu singkat semua barang milik Kyai Ahmad Dahlan itu habis terlelang dan terkumpul uang lebih dari 4.000 gulden.

Anehnya setelah selesai lelangan itu tidak ada seorang pun yang membawa arang-barang Kyai Ahmad Dahlan. Mereka lalu sama pamit mau pulang.

Tentu saja Kyai Ahmad Dahlan heran, mengapa mereka tidak mau membawa barang-barang yang sudah dilelang.

Kyai Ahmad Dahlan berseru, ”Saudara-saudara, silahkan barang-barang yang sudah sampeyan lelang itu saudara bawa pulang. Atau nanti saya antar?”

Jawab mereka, “Tidak usah Kiai. Barang-barang itu biar di sini saja, semua kami kembalikan pada Kiai.”

“Lalu uang yang terkumpul ini bagaimana?“ tanya Kyai Ahmad Dahlan.

“Ya untuk Muhammadiyah. Kan Kiai tadi mengatakan Muhammadiyah perlu dana untuk menggaji guru, karyawan dan membiayai sekolahnya?” Kata salah seorang dari mereka,

“Ya, tapi kebutuhan Muhammadiyah hanya sekitar 500 gulden, ini dana yang terkumpul lebih dari 4000 gulden. Lalu sisanya bagaimana?” tanya Kyai Ahmad Dahlan.

Jawab orang itu, “Ya biar dimasukkan saja ke kas Muhammadiyah.” []

Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 1921. Sebagaimana ditulis oleh Sukriyanto AR dan dimuat Suara Muhammadiyah, No. 13/98/1-15 Juni 2013.

Repost dari wall Ma’mun Murod Al-Barbasy via status Anab Afifi

Senin, 29 Agustus 2016

Berkat Doa Ayah, Saya Dapatkan Kedudukan yang Terhormat


INGATKAH Anda bahwasanya doa orang tua itu bagaikan pedang yang tajam. Apa pun yang dipinta akan selalu dikabul oleh Allah SWT. Maka, sebagai anak kita harus senantiasa memuliakan kedua orang tua, baik itu ayah atau pun ibu, keduanya sangatlah penting dan berharga bagi kita. Jangan sampai kita melukai hati mereka hingga akhirnya mereka mengeluarkan kata-kata kasar, yang akan membuat diri kita terpuruk.

Ada sebuah kisah dari seorang anak yang berbakti kepada orang tua, salah satunya kepada ayahnya. Ia adalah seorang pekerja keras yang selalu bekerja dan memberikan sebagian rezeki kepada ayahnya. Hingga suatu ketika, doa ayahnya itu membawa keberkahan dalam hidupnya. Berikut ini kisahnya.

Syaikh Muhammad AL-mukhtar asy-Syinqithi menceritakan seorang yang lemah, menderita dalam keadaan yang sempit. Ia pergi mencari nafkah untuk ayahnya. Jika ia datang membawa upah kerjanya hari itu, maka ia letakkan uang itu di atas dipan. Hal itu ia lakukan karena malu untuk menyerahkannya secara langsung dengan tangannya.

Setiap kali ia meletakkan uang di hadapan ayahnya, maka ayahnya selalu berdoa kepada Allah, “Ya Allah, berikanlah rezeki al-Quran kepada anakku, dan jadikanlah ia sebagai ahli al-Quran.”

Demikianlah hingga berlangsung dua puluh tahun, ia sibuk dengan pekerjaannya. Hingga pada suatu hari, ketika ia pulang dari pekerjaannya, Allah berkehendak untuk mempertemukannya dengan seorang alim.

Orang alim tersebut adalah seorang tokoh yang pendapat-pendapatnya menjadi pegangan orang-orang di negerinya. Orang alim itu bertanya, “Apa kegiatanmu sekarang?”

Laki-laki itu menjawab, “Seperti yang Anda lihat, saya berusaha mencari nafkah.”

Ulama tersebut berkata lagi, “Bisakah Anda menyediakan waktu untuk saya sehari dalam seminggu?”

Laki-laki itu menjawab, “Ya, dengan senang hati.”

Maka laki-laki itu senantiasa pulang pergi kepada ulama itu untuk belajar. Tidak terasa, hingga tibalah hari di mana laki-laki itu harus melakukan tanya jawab pada sebuah sidang untuk mempertahankan risalah doktoralnya dalam bidang tafsir Al-Quran.

Ketika ia dipanggil untuk melakukan tanya jawab, dan ia telah duduk, maka tiba-tiba ulama yang menjadi guru besar sekaligus dosennya itu berdiri karena hormat dan memuliakan laki-laki itu, dikarenakan keilmuannya. Kemudian ia berkata kepada laki-laki itu, “Silahkan wahai Syaikh.” Padahal seperti kita ketahui, seorang dosen tidak biasa berdiri untuk memuliakan mahasiswanya.

Kemudian di hadapan khalayak umum, tiba-tiba guru besar itu berkata, “Ilmu dan pengetahuannya tentang
Kitabullah yang saya lihat dari laki-laki ini membawa saya untuk menumpahkan rasa hormat kepadanya dan mendorongku untuk memuliakannya.”

Ketika laki-laki itu telah dipersilahkan, maka ia pun duduk sambil bercucuran air mata. Maka, sang guru besar bertanya, “Mengapa Anda menangis, padahal kami hanya ingin memuliakan Anda?”

Laki-laki itu menjawab, “Saya teringat doa ayahanda, ‘Ya Allah, berikanlah rezeki al-Quran kepada anakku, dan jadikanlah ia sebagai ahli al-Quran’.”

Berkat doa ayahanda, Allah Ta’ala telah menghantarkan laki-laki ini meraih kedudukan yang mulia dan terhormat. []

Sumber: Kisah Haru yang Mengundang Tangis/Karya: Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah/Penerbit: Pustaka Ibnu Umar

Pesan Kasman Singodimedjo kepada Kaum Intelektual





kasman 
 Oleh: Andi Ryansyah, Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)

 “KAMI inginkan persatuan dan persaudaraan di kalangan umat Islam dan kerja sama yang mesra dengan seluruh rakyat Indonesia.” -Kasman Singodimedjo, Tokoh Jong Islamieten Bond (JIB)-

Mengapa saat ini terdapat jurang yang begitu dalam di antara kaum intelektual dan rakyat?

Kalau dulu ada Soekarno yang tak hanya bisa merekayasa jembatan -hasil pendidikannya di teknik sipil ITB-, tapi juga bisa berkorban merekayasa jembatan kemerdekaan, namun sekarang tampaknya kaum intelektual lebih sering berlindung di balik menara gading perguruan tinggi, atau mencari kejayaan sendiri tanpa peduli nasib rakyat yang telah memberinya subsidi. Lalu bagaimana caranya membangun jembatan di atas jurang yang dalam itu?

Keterasingan kaum intelektual dari rakyat ini rupanya dulu juga dirasakan oleh Kasman Singodimedjo, Tokoh Perkumpulan Intelektual Islam JIB. Melalui majalah bulanan JIB “Het Lich” No.7 Agustus 1925, ia menggambarkan banyak mulut kaum intelektual kala itu bisu dengan bahasanya. Banyak yang tidak paham dan pandai berbicara dengan bahasa sendiri. Mereka tidak sungguh-sungguh mempelajari bahasanya. Betapa banyak dari mereka yang berasal dari suku sunda, tapi tidak pandai bahasa sunda yang sopan. Begitu pula yang berasal dari suku Melayu dan Jawa.

“Bahasa yang digunakan perkumpulan Jong Java bukanlah bahasa Jawa, Sunda, atau Melayu karena tidak semua anggotanya bisa. Itu pula yang membuat JIB terpaksa menjadikan Bahasa Belanda sebagai bahasa persatuan dalam organisasinya.”

Lebih dari soal bahasa, ia mengungkap kehidupan kaum intelektual seperti orang Eropa.“Kita tidak mengenal kehidupan kerja keras dan berat seperti yang dialami oleh para petani di sawah dan ladang. Kita tidak mengenal membanting tulang, mengangkat, dan memikul. Malahan kita terbius memandang rendah pekerjaan mereka yang serba kekurangan itu. Dan betapa jauh berbedanya kehidupan kita daripada mereka itu, dalam hal pakaian, perumahan, dan kesenangan.”

Pesta-pesta kelahiran, pernikahan, dan lain-lain, lanjutnya, benar-benar telah menjauhkan mereka dari rakyat. Mereka telah membiasakan tingkah laku orang Eropa. Apa saja di-Eropa-kan: pakaian pengantin, kamar pengantin, dan lain-lain.

Dan yang lebih parah lagi, ungkapnya, pada pesta-pesta itu mereka layani orang Eropa secara istimewa. Mereka adakan kebiasaan malam-malam khusus untuk melayani kenalan dan teman-teman Eropa. Dari situ, mereka merasa terhormat atas perhatian yang orang Eropa berikan dan menganggap remeh tamu sebangsa.

“Hampir-hampir kita tinggalkan sama sekali adat pusaka lama kita, yang mengandung pengertian bahwa pesta-pesta rumah yang diadakan oleh orang-orang yang berada, adalah bertujuan untuk menyenangkan dan menyuguhi jiran sekampung. Selamatan-selamatan yang diadakan dengan Kiayi-Kiayi dan santri-santri sebagai tamu terhormat telah tidak lagi menjadi kebiasaan bagi orang-orang kita yang berada.”

Seperti halnya pesta-pesta tadi, lanjutnya, pergaulan kaum intelektual pun seperti orang Eropa. Mereka hanya ingin berteman dengan orang Eropa atau orang Indonesia yang sudah kebarat-baratan, khususnya yang bisa berbahasa Belanda.

Ia merasakan kenyataan yang pahit dan menyedihkan menyaksikan kaum intelektual buta sama sekali terhadap hati nurani rakyat. Mereka tidak mengenal perasaan yang dimiliki rakyat. Pergaulan, pendidikan, dan hubungan mereka dengan orang Barat, khususnya dengan orang-orang Belanda, membuat mereka kurang bisa mengerti curahan perasaan rakyat yang jarang sekali atau bahkan mungkin tidak pernah mereka pedulikan.

Mereka menganggap segala sesuatunya yang bukan contoh dari orang Eropa adalah rendah, terbelakang, dan tidak sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman. Sampai-sampai apa yang paling baik dipunyai bangsa kita. “Pokoknya semua yang tidak sesuai dengan apa yang dibawakan oleh dunia Barat yang telah menguasai negara kita ini, sudah kita anggap rendah pula dan kita rasakan sebagai sesuatu yang salah karena tidak sesuai dengan contoh yang kita tiru dari manusia-manusia Barat yang rakus tak pernah kenyang itu.”  

Menurutnya, kesalahan mereka karena terlalu meningkatkan diri pada pengetahuan sekolah dan meninggalkan rakyat jau di belakangnya. Kejiwaan itu menyebabkan mereka selaku murid orang Barat tak sedikit pun dapat mengakui atau menghargai sesuatu yang berasal dari kepribadian bangsa sendiri. Sehingga seolah-olah rakyat itu harus belajar dari mereka, bahkan mereka sampai menyangka- nyangka seolah-olah rakyat tidak mempunyai keinginan untuk merdeka ataupun tidak berhasrat sendiri untuk berkembang. Akibatnya, mereka berpendapat bahwa mereka harus mengadakan perubahan pada rakyat.

“Betapa salahnya persangkaan kita itu. Betapa justru lebih dulu dari lingkungan kaum intelektual, di kalangan rakyat telah tercetus keinginan untuk merdeka dan hasrat kepada kemajuan, yang disusul dengan tindakan dan perbuatan.Tampak adanya inisiatif yang murni dan daya cipta yang enerjik yang menunjukkan keinginan akan kemajuan, dan perasaan persaudaraan terutama sekali harus dicari pada rakyat kita yang beragama Islam dan telah menyatukan diri dan berorganisasi dengan memakai Islam sebagai dasar.”

Ia menyebutkan banyak sekolah-sekolah yang sudah didirikan oleh Sarekat Islam, Muhammadiyah, Perserikatan Ulama dan lain-lain seperti Sarikat Usaha dan Sumatera Tawalib. Sedangkan perkumpulan-perkumpulan lain mencontoh pendidikan sekolah-sekolah pemerintah, yang umumnya dipandang tidak tepat dari segi kebangsaan. Di saat sebagian orang-orang Indonesia yang kompeten dan orang-orang Eropa sibuk mengadakan teori dan percobaan-percobaan, organisasi-organisasi Islam sudah lebih dahulu menyusun dan mempraktikkan pendidikan nasional untuk bangsa kita. Ia menilai itu karena organisasi-organisasi Islam menggunakan dasar dan sistem Islam sehingga mengarahkan mereka pada usaha menuju kesatuan dalam pendidikan, yaitu usaha yang membayangkan keberhasilan.

“Dalam usaha membangun pendidikan itu, mereka itu tidak mengambang di awang-awang, oleh karena mereka dapat melanjutkan usaha atas dasar-dasar yang telah ada dalam sejarah kebangsaan sebelum ini, dengan memperhitungkan pula perkembangan ilmu pengetahuan dan tuntutan zaman modern. Dalam hal ini, mereka tidak usah meraba-raba lagi. Oleh karena negara -negara Islam yang telah mendahului kita dalam perkembangan kemajuan, terutama misalnya Mesir, Persia, dan India, telah memberikan contoh yang bermanfaat.”

Ia lalu mengungkap organisasi-organisasi Islam di negeri ini dalam usaha membangun pendidikan, telah mendirikan beberapa Normall School dan Kweek School -sekolah- sekolah pencetak guru- yang sangat dibutuhkan bagi pembangunan di masa datang.

Kongres-kongres Islam yang berturut-turut diadakan, tuturnya, menunjukkan adanya perkembangan yang jelas ke arah persatuan. Centraal Comitee dari Kongres Al-Islam bahkan menganggap tiba waktunya untuk menjadikan soal kesatuan sistem pendidikan sebagai program Kongres. Dan Sarekat Islam telah pula mendirikan sekolah pendidikan guru-guru yang langsung dipimpinnya.

Tidak hanya di bidang pendidikan, tambahnya, tapi juga berkembang inisiatif dan semangat kerja pada organisasi-organisasi Islam di bidang ekonomi dan sosial. Dengen pesat mereka mengembangkan perusahaan-perusahaan dan koperasi. Ada klinik-klinik di Jogja dan Surabaya yang didirikan oleh Muhammadiyah serta panti asuhan orang-orang miskin di Yogyakarta yang dibangun oleh majelis PKO Muhammadiyah.

Ia mengungkapkan, “Kita kan tercengang melihat betapa luasnya aktivitas yang sudah mereka lakukan di seluruh Indonesia, di Tapanuli, di Bali, di Minahasa, dan lain-lain. Dengan tidak mengemukakan daerah-daerah yang sepenuhnya Islam saja, dalam mencapai kemajuan melalui dakwah Islam dan usaha-usaha mendorong umat Islam, maka nyatalah umat Islam telah merebut tempat yang berdiri di atas kaki sendiri di lapangan ekonomi. Ini semua seharusnya menjadi petunjuk bagi kita untuk tidak tertipu oleh propaganda yang saat-saat sekarang kian ditingkatkan, seolah-olah Islam sedikit sekali dapat tempat dalam hati nurani rakyat. Bahkan fakta bahwa juga ada golongan-golongan rakyat yang bukan muslim, tidak boleh mendorong kita untuk meremehkan golongan mayoritas mutlak yang beragama Islam, yang justru memiliki energi dan potensi yang amat besar untuk berdiri di atas kaki sendiri. Tanpa sedikit pun rasa permusuhan terhadap golongan-golongan non-Islam, yang bagaimana pun juga tentu harus terlepas dari pimpinan kita, maka kita sebagai golongan Islam harus memusatkan pikiran kita terhadap rakyat kita yang beragama Islam, yang jumlahnya tidak kurang dari 80% dari bangsa Indonesia kita ini.”  

Maka untuk membangun jembatan di antara kaum intelektual dan rakyat, Kasman Singodimedjo berpesan kepada kaum intelektual Islam untuk, “tidak lagi menjadi orang asing terhadap Islam, bahkan keterasingan itu harus berganti jadi kesadaran bahwa kita justru bisa menjadi pemimpin dan penganjur Islam bagi rakyat itu. Sehingga kita bisa mendapat tempat di hati dan jiwa rakyat. Dengan demikian kita dapat membawa kesatuan jiwa dan memanfaatkan kelebihan pendidikan yang kita miliki bagi rakyat untuk membawa mereka pada persatuan nasional.”