Minggu, 28 Agustus 2016

SETELAH MUKIDI SUKSES DAN PUNYA ANAK CUCU



Suatu malam, mbah Mukidi yang sudah berusia 85 thn telpon ke dokter pribadinya.

"Dokter, ada yang aneh dengan toilet saya. Setiap malam waktu saya mau kencing, lampunya langsung nyala sendiri begitu saya buka pintunya."

Sang dokter menjawab, "Mbah, embah istirahat saja deh, nanti saya perbaiki." Kata si dokter, mencoba menenangkan mbah Mukidi.

Karena merasa ada yang aneh, kemudian si dokter menelpon keluarga si Embah, dan yang ngangkat putri bungsunya, Sheilla namanya.

"Halloo dik Sheilla, tadi mbahmu memberitahu bahwa lampu toiletnya langsung menyala saat pintunya dibuka, apa memang kamar mandi di pasang lampu otomatis ?"

Mendengar hal ini, Sheilla langsung berteriak,

"Mamah... Kakak ... mbok Ijah ... Papah kencing di kulkas lagi tuhhh..."

Dokter: "Waduhhhh..."

Kamis, 18 Agustus 2016

Bagaimana Menghadapi Anak Kritis?

(suatu diskursus tentang pola asuh dan didik anak)

Bagaimana menghadapi anak kritis? – Seringkali orang tua merasa kewalahan, bahkan tidak sabar dalam menghadapi anak yang kritis. Anak banyak bertanya ini dan itu. Kadang-kadang pertanyaan anak terasa aneh dan tidak masuk akal.

Orang tua perlu memahami bahwa anak yang berpikir kritis memang ditandai dengan banyak bertanya. Hal ini disebabkan oleh naluri kurisitas anak yang tinggi terhadap apa yang dilihatnya. Rasa ingin tahu yang dimiliki anak dilampiaskan dengan mengajukan pertanyaan kepada orang terdekat dengannya. Siapa lagi kalau bukan orang tua.

Lalu, bagaimana menghadapi anak kritis? Ikuti tips sederhana berikut ini:

1.Berikan jawaban sesuai taraf berpikir anak
Memberikan jawaban atas pertanyaan anak akan membuat rasa ingin tahu anak dapat tumbuh subur dalam diri anak. Namun demikian, jawaban yang diberikan orang tua perlu mempertimbangkan usia dan taraf berpikir anak.

2.Bersikap jujur dan lugas
Jika orang tua memang tidak mengetahui jawaban atas pertanyaan anak. Ada baiknya bersikap jujur saja kepada anak. Ini bertujuan untuk menghindari pemahaman yang keliru terhadap pengetahuan anak. Selain itu juga menanamkan sifat jujur dan tidak sok tau.

3.Jangan perlihatkan kewalahan
Mungkin tidak selalu orang tua dapat menjawab dan menjelaskan pertanyaan anak. Namun usahakan untuk tidak memperlihatkan kalau orang tua kewalahan atau merasa bosan terhadap anak yang banyak tanya.

4.Tidak menganggap sepele pertanyaan anak
Menganggap sepele pertanyaan yang diajukan dapat merendahkan kepercayaan diri anak. Mungkin suatu saat anak tidak mau bertanya lagi pada orang tua. Anak merasa, jangan-jangan pertanyaannya tidak bagus atau tidak bermanfaat.

Sebaliknya, orang tua perlu menganggap penting semua pertanyaan anak. Hal ini ditunjukkan dengan memberikan layanan jawaban yang memuaskan anak. Ini akan menumbuhsuburkan pikiran kritis dan rasa percaya diri anak.

5.Sediakan waktu berdiskusi dengan anak
Kadang-kadang anak bertanya saat orang tua sibuk mengerjakan sesuatu di rumah. Jarang melihat orang tuanya memiliki waktu senggang. Makanya, selagi ada kesempatan anak akan langsung bertanya tanpa melihat kondisi orang tuanya. Oleh sebab itu, orang tua perlu menyediakan waktu khusus untuk berdiskusi dengan anak.

Senin, 15 Agustus 2016

Anak Bisa Menjadi Musuh Orangtua (?)



Anak bisa menjadi musuh orangtua (?) – Tidak ada jaminan kalau anak yang dilahirkan dan dibesarkan akan menjadi tulang punggung orangtua di hari tua. Justru sebaliknya, bukan mustahil seorang anak akan menyusahkan orangtua ketika masih hidup maupun sudah meninggal dunia.

Fakta di tengah kehidupan sehari-hari memang sudah banyak membuktikan kepada kita. Kesalahan dan kelalaian orangtua dalam mendidik dan membesarkan anak berdampak fatal bagi si anak bahkan orangtuanya sendiri.
Mari kita simak contoh kecil ini. Ketika anak masih di bangku sekolah, orangtua sering dipanggil oleh guru datang ke sekolah. Penyebabnya anak sering menunjukkan perilaku menyimpang di sekolah. Bolos belajar, berkelahi, melawan pada guru, dan lain sebagainya.

Semestinya, ketika anak belajar di sekolah, orangtua sudah fokus bekerja mencari uang. Tapi lantaran anak membuat masalah di sekolah, orangtua terpaksa menunda pekerjaannya. Tidak itu saja, nama baik orangtua ikut tercemar. Bukankah ini sudah menyusahkan orangtua?

Orangtua mempunyai tanggung jawab penuh terhadap anak-anaknya. Tidak hanya sekadar memenuhi nafkah lahir berupa biaya dan perlengkapan sekolah. Yang lebih berat itu nafkah bathin. Perhatian dan kasih sayang orangtua lebih berharga bagi anak. Dalam menghadapi masalah belajar, anak butuh dorongan semangat dari orangtua.

Menanamkan Karakter baik tidak bisa diandalkan hanya kepada lembaga sekolah. Justru orangtua memiliki peran strategis dalam membentuk dan mengembangkan karakter baik seorang anak. Anak pertama mendapat pendidikan di lingkungan keluarga. Selain itu waktu anak lebih banyak berada di rumah tangga ketimbang lembaga sekolah.

Tentu saja, memberi keteladanan yang nyata menjadi metode yang tepat untuk menumbuhkembangkan karakter baik pada anak. Ini semua bertujuan untuk membentuk karakter positif pada anak agar mereka tidak menyusahkan guru, masyarakat dan tentunya… orangtuanya sendiri. Agar anak tidak menjadi musuh orangtua kelak di kemudian hari.  

Sumber:

http://www.matrapendidikan.com/2014/07/anak-bisa-menjadi-musuh-orang-tua.html