Senin, 15 Agustus 2016

Anak Bisa Menjadi Musuh Orangtua (?)



Anak bisa menjadi musuh orangtua (?) – Tidak ada jaminan kalau anak yang dilahirkan dan dibesarkan akan menjadi tulang punggung orangtua di hari tua. Justru sebaliknya, bukan mustahil seorang anak akan menyusahkan orangtua ketika masih hidup maupun sudah meninggal dunia.

Fakta di tengah kehidupan sehari-hari memang sudah banyak membuktikan kepada kita. Kesalahan dan kelalaian orangtua dalam mendidik dan membesarkan anak berdampak fatal bagi si anak bahkan orangtuanya sendiri.
Mari kita simak contoh kecil ini. Ketika anak masih di bangku sekolah, orangtua sering dipanggil oleh guru datang ke sekolah. Penyebabnya anak sering menunjukkan perilaku menyimpang di sekolah. Bolos belajar, berkelahi, melawan pada guru, dan lain sebagainya.

Semestinya, ketika anak belajar di sekolah, orangtua sudah fokus bekerja mencari uang. Tapi lantaran anak membuat masalah di sekolah, orangtua terpaksa menunda pekerjaannya. Tidak itu saja, nama baik orangtua ikut tercemar. Bukankah ini sudah menyusahkan orangtua?

Orangtua mempunyai tanggung jawab penuh terhadap anak-anaknya. Tidak hanya sekadar memenuhi nafkah lahir berupa biaya dan perlengkapan sekolah. Yang lebih berat itu nafkah bathin. Perhatian dan kasih sayang orangtua lebih berharga bagi anak. Dalam menghadapi masalah belajar, anak butuh dorongan semangat dari orangtua.

Menanamkan Karakter baik tidak bisa diandalkan hanya kepada lembaga sekolah. Justru orangtua memiliki peran strategis dalam membentuk dan mengembangkan karakter baik seorang anak. Anak pertama mendapat pendidikan di lingkungan keluarga. Selain itu waktu anak lebih banyak berada di rumah tangga ketimbang lembaga sekolah.

Tentu saja, memberi keteladanan yang nyata menjadi metode yang tepat untuk menumbuhkembangkan karakter baik pada anak. Ini semua bertujuan untuk membentuk karakter positif pada anak agar mereka tidak menyusahkan guru, masyarakat dan tentunya… orangtuanya sendiri. Agar anak tidak menjadi musuh orangtua kelak di kemudian hari.  

Sumber:

http://www.matrapendidikan.com/2014/07/anak-bisa-menjadi-musuh-orang-tua.html

Jumat, 12 Agustus 2016

Dosa Yang Terus Mengalir Meski Sudah Meninggal


Sebagian manusia bisa dengan mudah melakukan perbuatan dosa dalam kehidupan sehari-hari. Karena seringnya dilakukan, tindakan tersebut terkadang dianggap biasa sehingga tidak terasa seperti dosa. Padahal dosa bukanlah perkara main-main.

Balasannya mutlak neraka yang sudah disiapkan Allah SWT bagi hamba-Nya yang ingkar. Ternyata, setelah meninggal tanggungjawab terhadap dosa maksiat yang pernah dilakukan tidak terputus begitu saja.


Selama perbuatan maksiat tersebut masih berdampak dan berpengaruh kepada orang lain, maka dosanya akan tetap mengalir kepada pelakunya meski Ia sudah meninggal. Apa saja dosa-dosa tersebut? Berikut ulasannya.


Jika biasanya kita mengenal amal jariyah yang pahalanya mengalir meski sudah meninggal, maka ada juga dosa jariyah yang di janjikan Allah SWT akan diterima manusia. Saat sudah meninggal, seseorang akan tetap mendapatkan dosa karena perbuatannya semasa di dunia masih berpengaruh buruk terhadap orang lain.

Padahal di alam barzah manusia sangat membutuhkan limpahan pahala sebagai pertolongan mereka menunggu hari kiamat. Namun karena dosa jariyah ini mereka justru harus menanggung dosa-dosa yang dilakukan orang lain, akibat pengaruh atas tindakan maksiat yang pernah Ia lakukan semasa hidup.


“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12)

Mudah-mudahan, dengan adanya tausyiah ini menjadi i'tibar bagi kita semua.